Minggu, 01 Juli 2018
Filsafat Imam Al Ghazali terhadal Ilmu fisika
Filsafat Imam Al Ghazali terhadal Ilmu fisika membicarakan tentang planet-planet unsur-unsur tunggal, seperti air, udara, tanah, dan api, kemudian benda-benda tersusun, seperti hewan, tumbuh-tumbuhan, logam, sebab-sebab perubahan dan pelarutannya. Pembahasan tersebut sejenis dengan pembahasan lapangan ke dokteran, yaitu menyelidiki tubuh orang, anggota-anggota badannya dan raksi-reaksi kimia yang terjadi di dalamnya. Sebagaimana untuk agama tidak disyaratkan mengingkari ilmu kedokteran, maka demikian pula ilmu fisika juga tidak perlu diingkari, kecuali dalam empat persoalan, yang dapat disimpulkan bahwa alam semesta ini dikuasai oleh Tuhan, tidak bekerja dengan dirinya sendiri, tetapi bekerja karena Tuhan, Zat penciptanya.
Lebih lanjut Al-Ghazali membagi filsuf kepada tiga golongan, yaitu materialis (dahriyyun), naturalis (thabi'iyyun), dan theis (ilahiyyun). Kelompok pertama terdiri dari para filsuf awal, seperti Empedokles (490-430 SM) dan Demokritus (460-360 SM), mereka menyangkal Pencipta dan Pengatur dunia, dan yakin bahwa dunia ini telah ada dengan sendirinya sejak dulu. Peristiwa- peristiwa alam adalah perubahan yangterus-menerus. Al-Ghazali menganggap mereka tidak beragama. Naturalis terpesona oleh keajaiban penciptaan dan sadar akan maksud yang berkelanjutan dan kebijaksanaan dalam rencana segala sesuatunya, mengakui eksisitensi suatu pencipta bijaksana tetapi menyangkal kerohanian dan dan sifat materiality jiwa manusia.Mereka menjelasakan perihal jiwa dalam istilah naturalis sebagai suatu epifenomena jasad dan yakin bahwa kematian jasad menyebabkan jiwa tak berwujud sama sekali. kepercayaan pada surga, neraka, dan hari akhirat mereka pandang sebagai dongeng nenek-nenek atau khayal ulama. Karena mereka menyangkal hari kemudian Al-Ghazali memandang mereka pun tidak religius. yang dalam istilah Al Ghazali disebut zindiq. Kaum theis tergolong para filsuf lebih modern dan mencakup Socrates, Plato, dan Aristoteles. Meski mereka menyerang golongan materialis dan naturalis, serta menelanjangi cacat-cacat mereka dengan efekif sekali , Al-Ghazali berpendapat, kaum theis ini masih menyimpan sisa kekafiran dan paham bid'ah. Sebab itu dia menilai mereka maupun para filsuf Muslim yang mengikutinya, sebagai kaum kafir. Menurut pendapatnya, di antara pengikut mereka, Al-Farabi dan Ibn Sina adalah penerus terbaik filsafat Aris toteles ke dalam dunia Islam. Beberapa bagian dari yang mereka teruskan dinilainya sebagai kekafiran belaka, beberapa lagi sebagai bid'ah besar dan yang lain sebagai hal yang tak dapat diingkari sama sekali
b. Metafisika
Lain halnya dengan lapangan metafisika (ketuhanan), Al-Ghnzali memberikan reaksi keras terhadap Neo-Platonisme Islam, menurutnya banyak sekali terdapat kesalahan filsuf, karena mereka tidak teliti seperti halnya dalam lapangan logika dan matematika. Untuk itu Al-Ghazali mengecam secara langsung dua tokoh Neo-Platonisme Muslim (Al-Farabi dan Ibn Sina)dan secara tidak langsung kepada Aristoteles, guru mereka. Menurut Al-Ghazali sebagai dikemukakannya dalam bukunya Tahafut al-Falasifah, para pemikir bebas tersebut ingin menanggalkan keyakinan kenyakinan islam dan memgabaikan dasar-dasar pemujaan ritual dengan menganggapnya sebagai tidak berguna bagi pencapaian intelektual mereka. Kekeliruan filsuf tersebut ada sebanyak 20 persoalan (16 dalam bidang metafisika dan 4 dalam bidang fisika). Dalam 17 soal mereka harus dinyatakan sebagai ahl al-bida', sedangkan dalam tiga soal lainnya, mereka dinyatakan sebagai kafir, karena pikiran-pikiran mereka dalam tiga soal tersebut berlawanan sama sekali dengan pendirian semua kaum muslimin.20 persoalan dimasksud adalah:
1. Alam qadim (tidak bermula);
2. Keabadian (abadiah) alam, masa, dan gerak:
3. Konsep Tuhan sebagai Pencipta alam dan bahwa alam adalah produk ciptaan-Nya; ungkapan ini bersifat metaforis;
4. Demonstrasi/pembuktian eksistensi Pernciptaan alam,
5. Argumen rasional bahwa Tuhan itu satu dan tidak mungkinnya pengandaian dua wajib al-wujud;
6. Penolakan akan sifat-sifat Tuhan;
7. Kemustahilan konsep genus (jins) kepada Tuhan
8. Wujud Tuhan adalah wujud yang sederhana, wujud murni, tanpa kuiditas
9. Argumen rasional bahwa Tuhan bukan tubuh jism);
10. Argumen rasional tentang Sebab dan Pencipta alam [hukum alam tak dapat berubah];
11. Pengetahuan Tuhan tentang selain diri-Nya, dan Tuhan mengetahui species dan secara universal;
12. Pembuktian bahwa Tuhan mengetahui diri-Nya sendiri;
13 . Tuhan tidak mengetahui perincian segala sesuatu (juziyyat) melainkan secara umum
14. Langit adalah makhluk hidup dan mematuhi Tuhan dengan gerak putarnya.
15. Tujuan yang menggerakkan langit:
16. Jiwa-jiwa langit mengetahui partikular-partikular yang bermula (al-juz iyyat al-haditsah);
17. Kemustahilan perpisahan dari sebab alami peristiwa-peristiwa
18. Jiwa manusia adalah substansi spiritual yang ada dengan sendirnya, tidak menempati ruang, tidak ter pateri pada tubuh, dan bukan tubuh
19. Jiwa manusia setelah terwujud tidak dapat hancur, dan watak keabadian- nya membuatnya mustahil bagi kita membayangkan kehancurannya
20. Penolakan terhadap kebangkitan jasmani
Tiga persoalan yang menyebabkan para filsuf dipandang kafir adalah
1. Alam kekal (qadim) atau abadi dalam arti tidak berawal;
2.Tuhan tidak mengetahui perincian atau hal-hal yang partikular (juziyyat) yang terjadi di alam;
3. Pengingkaran terhadap kebangkitan jasmani (hasyr al-ajsed) di akhirat
Langganan:
Postingan (Atom)
3 Alasan kenapa masa muda sulit?
3 Alasan kenapa penyesuaian terhadap masalah-masalah pada masa dewasa dini begitu sulit. Pertama, Sedikit sekali orang muda yang m...
-
What got you here, won't get you there Dua puluh kebiasaan harus dihilangkan Pernahkan anda tau bahwa kita harus menghentikan kebi...
-
Nama Lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad ibn Zakaria ibn Yahya al-Razi. Di dunia barat dikenal dengan Rhazes. Ia lahir di de...
-
Kebenaran Mimpi Melihat Rasulullah saw