Selasa, 29 Januari 2019

Kepribadian Syeikh Nawawi Al Bantani



Nama asli syeikh Nawawi adalah Muhammad Nawawi bin Umar bin Arabi bin Ali bin Jamad bin Janta bin Masbuqil al-Jawwi al-BantaniDilahirkan pada tahun 1230 H/ 1813 M di Banten Jawa Barat dan dibesarkan di lingkungan keluarga yang agamis. Syeikh Nawawi meninggal pada tahun 1314 H/ 1897 M di Mekah. Maqam terletak di Ma’la dan bersebelahan dengan maqam Khadijah r.a istri Rasululloh ﷺ.
            Suasana religius keluarga sangat memberi kontribusi kepada Syeikh Nawawi kecil. Beliau mendapatkan pendidikan agama pertama melalui sang ayah bernama Umar bin Arabi yang pada saat itu bekerja sebagai penghulu pada saat zaman pemerintahan Belanda. Ibu syeikh Nawawi bernama Zubaidah. Pendidikan yang diberikan ayah berupa pembelajaran: Ilmu kalam, Nahwu, Tafsir, dan Fiqih.Di lingkungan Banten ia juga belajar kepada H. Sahal seorang yang ‘alim ditempatnya.  Selanjutnya Syeikh Nawawi belajar ke tempat saudara di Karawang dan belajar dengan Raden Haji Yusuf.  
            Prestasi Syeikh Nawawi sebagai seorang ‘alim tidak didapat secara Cuma-Cuma atau ilmu laduni melainkan dengan usaha yang keras dan disiplin dari masa kanak-kanak. Pada saat usia 15 tahun beliau menunaikan ibadah haji ke Mekah dan tinggal di Hijaz selama 3 tahun. Di Hijaz Nawawi belajar ke beberapa guru diantaranya:
·         Sayyid Ahmad bin Abd Rahman an-Nahrawi di Mekkah
·         Sayyid Ahmad Dimyati di Mekkah
·         Sayyid Ahmad Zaini Dahlan di Mekah
·         Syeikh Muhammad Khatib Sambas Al-Hambali di Madinah
            Dari madinah melanjutkan belajar ke Syiria dan Mesir. Ketidakpuasaan atas ilmu yang dimiliki sehingga menjadi beliau samudra ilmu di Hijaz. Mencari ilmu bagi Nawawi merupakan kewajiban dari lahir sampai ke liang lahat dan sudah menjadi dasar dan karakter laki-laki asli Banten tersebut, Seperti dalam hadits (Thalabul ‘ilma faridhatun ‘ala kuli muslimin wa muslimat) menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun perempuan.
            Sekitar tahun 1833 beliau kembali ke Tanah air dengan bekal ilmu islam yang kuat untuk mengajar di daerah beliau tinggal mulai dari rumah ke rumah, masjid ke masjid dan mengajar di Pesantren milik ayahnya. Setelah 20 tahun beliau mengajar di lingkungan rumahnya beliau mulai tidak betah sehingga memutuskan untuk kembali ke Tanah suci pada tahun 1855 M.
            Syeikh Nawawi memiliki garis keturunan dari raja termasyhur Maulana Hasanuddin putra dari Maulana Syarif Hidayatulloh atau lebih dikenal dengan Sunan Gunung Jati (Walisongo). Sultan Hasanudin mematahkan dominasi Belanda di nusantara pada abad ke XVII.
A . Sebagai Guru
            Pada tahun 1870an Syeikh Nawawi diundang untuk menghadiri sebuah diskusi panel di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Nawawi banyak menulis kitab-kitab berbagai bidang diantaranya: Tafsir, Fiqih, Usul ad-din, Ilmu Tauhid, Tasawuf, Kehidupan Nabi, Nahwu, Hadits dan Akhlak islam.
            Suatu kisah menarik pada saat syeikh Nawawi diundang Universitas Al-Azhar untuk memberikan materi kuliah, syeikh bersama dengan murid setia yaitu Muhammad Yusuf. Syeikh berinisiatif untuk bertukaran posisi syeikh menjadi murid dengan pakain murid dan murid berpakaian seperti syeikh.  Pada saat itu murid sangat dihormati oleh mahasiswa sebagai seorang yang ’alim dan sebaliknya untuk syeikh. Memasuki forum syeikh memerintahkan muridnya untuk tampil berpidato, ketika memasuki sesi presentasi syeikh mengisyaratkan untuk menggati posisi. Murid mengakhiri pidato dengan alasan kurang sehat dan akan dilanjutnkan oleh temanya. Syeikh Nawawi asli yang menyamar selnjutnya memesona audien dengan ketinggian akademisi dan kefasihan dalam menyampaikan pesan-pesan islam sehingga salah satu audien berucap ”Masya alloh, muridnya saja begitu bagusnya, bagaimana dengan jika yang menyampaikan adalah gurunya pasti hebat (‘ajib)”. Dari kisah diatas bisa menunjukan sikap para santri bahwa mereka mematuhi perintah gurunya/ kiyai tanpa membantah dalam kondisi apapun dan menjadikan seorang kiyai harus mengikuti sikap Syeikh Nawawi yang tidak menyukai pujian walaupun ilmunya luas.
Murid-murid syeikh Nawawi yang terkenal dan berpengaruh di Indonesia, diantaranya:
·         K.H Hasyim Asy’ari, Tebuireng Jombang, Jawa Timur (Pendiri Nahdlatul “Ulama) .
·         K.H Khalil Bangkalan, Madura, Jawa Timur.
·         K.H Ilyas, Serang Banten, Banten.
·         K.H. Tubagus Muhammad Asnawi, Caringin, Jawa Barat.
            Menurut salah satu murid Abd. As-Sattar, Syeikh Nawawi adalah ornag yang rendah hati, zahid, mutawadhi’ dan suka menolong. Mempesonanya dan kecintaan K.H Hasyim Asy’ari kepada gurunya Syeikh Nawawi dikisahkan oleh santi Hasyim bernama Chaidar. Sambil mengajarkan kitab-kitab pokok tentang fiqih, fath al-qorib, setiap selesai shalat Ashar, ia melanjutkan kisah kehidupan gurunya dengan meneteskan air mata kebanggaan dan kenangan yang berarti. Didalam pesantran kecintaan kepada guru menjadi paling utama dan bagian dari irsyad ustadzin (mengejar petunjuk dari seorang guru). Sajak Ali bin Abi Thalib yang populer dikalangan masyarakat mendelegitimasi dalam mencari ilmu:
Mencari ilmu tidak akan membawa hasil tanpa enam perkara yang akan saya tunjukan kepadamu melalui beberapa kata berikut:
Ketajamaan akal, keinginan yang sungguh-sungguh, kesabaran, bekal yang cukup, bimbingan dari seorang guru, dan waktu yang lama.
            Kritik Syeikh Nawawi terhadap warga indonesia yang mendukung pemerintahan Belanda pada saat itu ”Diantara sifat buruk adalah mementingkan kekayaan dari pada kepentingan bangsa, dan bekerja sama dengan kaum penjajahan, diam terhadap hal-hal yang ingkar (seperti tidak peduli terhadap apapun yang dilakukan oleh penjajah) sementara mereka atau kaum muslimin mempunyai hak dan kekuatan untuk melawan”.
 klik
Daftar pustaka
Chaidar, sejarah punjangga islam syech nawawi al-Bantani indonesia. Jakarta: Sarana Utama 1978

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

3 Alasan kenapa masa muda sulit?

3 Alasan kenapa penyesuaian terhadap masalah-masalah pada masa dewasa dini begitu sulit. Pertama, Sedikit sekali orang muda yang m...