Sabtu, 24 November 2018

DINASTI THAHIRI ( 200 – 259 H/ 820-872 M )


DINASTI THAHIRI ( 200 – 259 H/ 820-872 M )

            Dinasti ini didirikan oleh Thahir Ibn Husain ( 150-207 H ), seseorang yang berasal dari Persia, telahir di desa Musanj deket Marw. Ia diangkat sebagai panglima tentara pada masa pemerintahan Khalifah Al-Ma’mun. Ia telah banyak berjasa membantu Al-Na’mun dalam menumbangkan Khalifah Al-Amin dan memadamkan pemberontakan Alwiyin di Khurasan. Pada mulanya Al-Ma’mun  memberikan kesmpatan Thahir untuk mmegang jabatan gubernur di Mesir pada tahun 205 H, kemudian kepercayaan itu untuk mengendalikan wilayah bagian timur. Thahir Ibn Husain yang memerintah pada tahun 205-207 H menjadikan kota Marw sbagai tempat kdudukan Gubernur. Setelah ia wafat, jabatan gubernur dilimpahkan oleh khalifah kpada anaknya yaitu Thalhah Ibn Thahir yang memerintahkan sjak tahun 207-213 H. Didalam redaksi lain, Philip K. Hitti menjelaskan dinasti ini sebagai berikut:
            “ The first to established a quasi independent stat east of Baghdad was the once trusted general of Al-Ma’mun, Thahir Ibn Al-Husayn of Khurasan, who had victoriusly led his masters army againts Al-Amin. In this was the one eyed Thahir is said to have used the sword so effectively with both hands that Al-Ma’mun. The descendeant of a Persian slave, Thahir was east of Baghdad, with the centre of his capital, Marw, Thahir had omitted mntion of the caliph’s name is the Friday prayer.”
            Setelah Thalhah, kekuasaan berpindah ke tangan pngerusnay, yaitu Abdullah Ibnu Thahih dan merupakan pemegang jabatan gubernurKhurasan terlama 213-248H. Selama memegang jabatan setingkat gubernur, Dinasti Tahiri menjaga hubungan baik dengan pemerintahan Abasiyah di Baghdad. Bahkan daerah mesir pun diserahkan oleh Al-Ma’mun kepada penguasaan Abdullah Ibnu Thahir pada tahun 210H. Pada waktu itu menimbulkan gejolak, karena hubungan dekat dan kepercayaan yang diberikan Al-Ma’mun cukup besar, wilayah kekuasaan Abdullah diperluas sampai ke daerah Suriah dan Jazirah.
            Pada tahun 213 H wilayah kekuasan Abdullah Ibn Thahir dikurangi dan Al-Ma’mun menyerahkan Suriah, Mesir dan Jazira kepada saudara sendiri, yaitu Ishak Ibn Harun Ar-Rasyid. Hal ini dilakukan Al-MA’mun setelah menguji kesetian Abdullah Ibn Thahir, yaitu diketahui ternyata cenderung memihak pada keturunan Ali Ibn Abi Thalib. Sesudah Abdullah Ibnu Thahir, jabatan gubernur Khurasan dipegang oleh saudaranya, yaitu Muhammad Ibn Thahir 248-259 H. Ia merupakan gubernur terakhir dari keluarga Thahir. Kemudian daerah Khurasan diambil alih oleh keluarga Saffari melalui perjuangan senjata. Keluarga Saffari merupakan saingan keluarga Thahiri di Sijistan.klik
            Walaupaun beberapa kekuasaan atas wilayah-wilayah mereka dikurangi oleh khalifah, mereka terus memperluas wilayah dengan mempertahankan hubungan baik dengan Khalifah Abbasiyah. Hal ini terbukti ketika Al-Mu’tashim harus memerangi pemberontakan Al-Maziyar Ibn Qorun dari Tabarristan. Abdullah Ibn Thahir turun tangan dan menghancurkan Al-Maziyah.
            Akan tetapi, ketika Diansti Thahiri di Khurasan mendekati masa kemunduran, tampaknya keluarga Abbasiyah menunjukan sikap yang beda. Mereka mengalihkan perhatian kepada keluarga Saffari yang mulai menggerogoti dan melancarkan gerakan untuk menguasai Khurasan. Dalam keadaan mulai melemah, keluarga Alawiyin di Tabaristan menggunakan kesempatan untuk memunculkan gerakan mereka. Bersamaan dengan gerakan saffari yang terus mendesak kekuasaan Tahbaridari arah selatan, pada tahun 259H. Pada tahun inilah Dinasti Thahiri berakhir.
            Para Ahli sejarah mengakui bahwa pada zaman Thairi, dinasti ini telah memberikan sumbangan dalam memajukan ekonomi, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan dunia islam. Kota Naishabur berhasil bangkit dan menjadi salah satu pusat perkembangan ilmu dan kebudayaan di Timur. Pada saaat itu keadaan Khurasan sangat makmur dengan pertumbuhan ekonomi yang baik, sehingga dapat mendukung kegiatan ilmu dan kebudayaan pada umumnya.klik
            Kemudian Dinasti Thahiri diambiul alih oleh Khalifah Abbasiyah untuk menjaga ketentraman dan kemajuan dunia islam. Mereka berhasil menguasai dan mengamankan wilayah sampai ke Turki yang pada sultanya telah menyatakan kesetian dan ketaatan sebagai umat islam yang tunduk dibawah Khalifah Abbasiyah.
Daftar Pustaka
Encyclopedi of islam, hal. 610-614
Dedi Supriyadi. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: CV Pustaka Setia, 2008.


#duniaislam
#islam
#dinastiislam
#kerajaanislam
#peradabanislam
#dinastithahiri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

3 Alasan kenapa masa muda sulit?

3 Alasan kenapa penyesuaian terhadap masalah-masalah pada masa dewasa dini begitu sulit. Pertama, Sedikit sekali orang muda yang m...