Rabu, 21 November 2018

SEJARAH SYI'AH DI DUNIA


            Ada yang beranggapan Syi’ah lahir pada masa akhir kekhalifahan Usman bin Affan radhiallahu ‘anhu atau pada masa awal kepemimpinan Ali bin Abi thalib radhiallahu ‘anhu. Pada saat itu terjadi pemberontakan kepada khalifah Usman bina Affan radhiallahu ‘anhu yang berakhir dengan kesyahidan Usman bin Affan radhiallahu ‘anhu dan ada tuntunan agar Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu dibaiat sebagai khalifah. Tampak pendapat paling populer adalah syi’ah lahir setelah gagalnya perundingan antara pihak khalifah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu dengan pihak Mu’awwiyah bin Abu Sofyan radhiallahu ‘anhu di shiffin yang disebut sebagai peristiwa At-Tahkim (arbitrasi). Akibat kegagalan itu, sejumlah pasukan Ali R.A menentang kepemimpinan dan keluar dari pasukan Ali radhiallahu ‘anhu, mereka disebut golongan khawarij ( orang-orang yang keluar dari barisan Ali r.a ). Sebagian orang yang tetap setia kepada khalifah Ali radhiallahu ‘anhu disebut Syi’ah Ali ( pengikut ali ).
            Istilah Syi’ah pada era khalifah Ali radhiallahu ‘anhu hanya bermakna pembelaan dan dukungan politik. Syi’ah yang muncul pada mulanya sebagai pengikut Ali radhiallahu ‘anhu yang sah saat melawan pihak Mu’awiyyah dan hanya bersifat kurtural, bukan bercorak sebaqgai aqidah seperti sekarang ini. Sebab kelompok setia Syi’ah Ali terdiri dari para sahabat dan sebagian tabi’in pada saat itu tidak ada keyakinan bahwa Ali lebih utama dan berhak atas khalifah setelah rasululloh. Bahkan pada saat pidato di atas mimbar masjid Kuffah bahwa: “ Sebaik-baik umat islam setelah nabi muhammad saw adalah Abu Bakr dan Umar.. Demikianlah jawaban beliau ketika ditanya putranya yaitu Muhammad ibn Al-Hanafiah seperti yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari ( hadits no.3671 ).
            Menurut Thabathari, syi’ah muncul karena kritik dan proses terhadap dua masalah dasar dalam islam, yaitu berkenaan dengan pemerintahaan Islam dan kewenangan dalam pengetahuan keagamaan yang menurut syi’ah menjadi hak istimewa ahlul bait. https://shopee.co.id/as_sidik
            Kendatipun masalah imamah menjadi pokok keimanan Syi’ah, tetapi ternyata terjadi perbedaan  dan perselisihan dikalangan firqah-firqah Syi’ah, terutama pada penentuan siapakah yang menjadi Imam. Al Hasan bin Musa an-Naubakhti, ulama syi’ah yang hidup pada pertengahan abad ke-3 H hingga awal 4 H, dalam kitab Firaq as-Syi’ah (hal.19-109) telah menjelaskan perbedaan itu dalam beberapa bentangan periodik diantaranya, setelah Ali bin Abi Thalib wafat. Menurut an- Naubakti, Syi’ah terpecah dalam 3 golongan:https://shopee.co.id/as_sidik
            Pertama, Kelompok yang berpendapat Ali bin Abi Thalib tidak mati terbunuh, dan tidak akan mati, sehingga ia berhasil menegakkan keadilan di dunia. Ini kelompok ekstrim ( ghuluw ) pertama. Kelompok Syi’ah ini disebut Syi’ah as-Syaba’iyah, yang dipimpin oleh abdullah bin saba’. Mereka adalah kelompok yang terang-terangan mencaci serta berlepas diri (bara’ah ) dari Abu Bakr, Umar dan Usman serta para sahabat Rasululloh. Mereka mengaku Ali lah yang menyuruh mereka untuk melakukan hal ini. Ketika dipanggil Ali mereka mengakui perbuatannya, hampir saja Ali memvonis mati terhadap Abdullah bin saba’. Tetapi karena pertimbangan beberapa orang, sehingga Ali hanya mengusir Abdullah bin saba’ ke al-Madain.
            Menurut an-Naubakhti, Abdullah bin saba’ salanya beragama Yahudi, ketika masuk islam, ia mendukung Ali. Dialah orang pertama yang terang-terangan mengisukan kewajiban imamahnya Ali serta berlepas diri ( bara’ah ) dari musuh-musuhnya. Dijelaskan pula, bahwa ketika abdulloh bin saba’ masih beragama Yahudi pernah mempopulerkan pendapat bahwa Yusa’ bin Nun adalah pelanjut Nabi Musa. Maka ketika ia masuk islam, ia pun berpendapat bahwa Ali adalah pelanjut Nabi Muhammad Saw. Faktor inilah yang membuat orang menuduh bahwa sumber ajaran Syi’ah berasal dari Yahudi.
            Penjelasan an-Naubukhti ini sekaligus merupakan  jawaban terhada kalangan Syi’ah serta pendukungnya, yang mengklaim bahwa Abdullah bin saba’ hanaylah tokoh fiktif, ciptaan kalangan ahlus sunnah yang sumber utama dari at-Thabary melalui satu-satunya jalur saif bin Umar al-Tamimy yang dinilai dhaif.
            Kedua, kelompok yang berpendapat, imam pengganti sesudah Ali bin Abi Thalib wafat adalah puteranya. Muhammad bin al-Hanafiyah, karena ini yang dipercaya membawa panji ayahnya, Ali bin Abi Thalib dalam peperangan di Bashrah. Mereka mengkafirkan siapapun yang melangkahi Ali bin Abi Thalib dalam imamah, juga mengkafirkan Ahlul Shiffin, Ahlul Jamal. Kelompok ini disebut al-Kaisaniyyah.
            Ketiga, kelompok yang berkeyakinan bahwa setelah Ali bin Abi Thalib wafat, imam setelahnya adalah puteranya al-Hasan. Ketika al-Hasan menyerahkan khalifah kepada muawiyyah bin abu sofyan, mereka memindahkan imamah kepada al-Husain, sebagaimana mereka mencela al-Hasan, bahkan al-Jarrah bin Sinan al-Anshari ernah menuduhnya sebagai musyrik.
            Tetapi sebagian Syi’ah berpendapat bahwa sesudah al-Hasan wafat, maka yang menjadi imam adalah puteranya Al-Hasan bin Al- Hasan yang bergelar ar-Ridha dari keluarga Nabi Muhammad saw. Menurut al-isfahani, dia bersama Ali bin al-Husain Zainal Abidin serta Umar bin Al Hasan dan Zaid bin al-Hasan adalah cucu-cucu Ali bin Abi Thalib yang menyertai al-Husain dalam peristiwa karbala dan selamat dari pembunuhan. Fakta historis ini sekaligus membantah informasi yang menyebutkan bahwa satu-satunya keturunan laki-laki Rasululloh SAW atau keturunan laki-laki Ali bin Abi Thalib yang selamat dari pembantaian Karbala hanya Ali bin Al-Husain Zainal Abidin saja.
            Fakta historis tentang adanya perbedaan pendapat bahkan perselisihan internal Syi’ah pada setiap level imam ini, selain disebutkan oleh kalangan Syi’ah sendiri ( an-Naubakhti) juga disebutkan oleh fakhrudin ar-Razi. “Ketahuilah bahwa adanya perbedaan yang sangat besar seperti diatas, merupakan satu bukti konkrit tentang tidak adanya wasiat teks petunjuk yang jelas dan berjumlah banyak tentang imam yang Dua belas seperti yang mereka klaim itu.”

Daftar Pustaka:
·         Hamid Enayat, Reaksi politik Sunni dan Syi’ah; Pemikiran Politik Modern menghadapi abad ke-20. Bandung: Pustaka, 1988.
·         M.H.Thabathabani, Islam Syi’ah; asal-usul dan perkembangannya, Jakarta: Grafiti, 1989.
·         Hidayat Nur wahid, Syi’ah dalam lintasan sejarah, makalah seminar nasional, 21 september 1997, hal 4.
·         Buku panduan Majelis Ulama Indonesia Mengenal dan mewaspadai penyimpangan Syi’ah di Indonesia hal 21-27.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

3 Alasan kenapa masa muda sulit?

3 Alasan kenapa penyesuaian terhadap masalah-masalah pada masa dewasa dini begitu sulit. Pertama, Sedikit sekali orang muda yang m...